Meneruskan kekayaan lebih mudah daripada mempersiapkan pewaris untuk mengelolanya, menurut studi Sun Life Asia

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 27 September 2026 - 04:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

  • Di antara mereka yang khawatir kekayaannya tidak akan bertahan hingga generasi berikutnya, 52% menilai kesiapan penerima manfaat dalam mengelola warisan sebagai kekhawatiran utama, melampaui volatilitas pasar (49%) dan konflik keluarga terkait aset (44%).
  • Sebanyak 70% khawatir kekayaan mereka tidak akan bertahan hingga generasi berikutnya, meskipun jumlah rencana yang terdokumentasi telah meningkat dua kali lipat sejak 2025.
  • Hampir tiga perempat (74%) keluarga yang merencanakan warisan finansial berniat mewariskan nilai-nilai, pengetahuan, atau pelajaran hidup bersama dengan aset finansial.
  • Keluarga terkaya di Asia tidak terlalu mencemaskan konflik keluarga, tetapi lebih mengkhawatirkan risiko investasi, kompleksitas perpajakan, dan kepercayaan terhadap penasihat mereka

HONG KONG, 27 September 2026 /PRNewswire/ — Riset terbaru Sun Life Asia mengungkapkan bahwa ancaman terbesar terhadap keberlangsungan kekayaan dari generasi ke generasi mungkin bukan volatilitas pasar atau konflik keluarga, melainkan kesiapan penerima manfaat dalam mengelola harta yang mereka warisi. Meskipun perencanaan warisan semakin umum di Asia, hanya satu dari lima orang yang merasa benar-benar siap untuk mewariskan kekayaan mereka saat ini.

Laporan terbaru Passing the Torch: When legacy means more than money, menunjukkan bahwa pandangan masyarakat di Asia tentang warisan yang ingin mereka tinggalkan telah banyak berubah. Hampir tiga perempat (74%) responden berencana mewariskan nilai-nilai, pengetahuan, atau pelajaran hidup sebagai bagian dari rencana warisan mereka, selain aset finansial. Pada saat yang sama, 70% khawatir kekayaan mereka tidak akan bertahan hingga generasi berikutnya dan hanya 20% yang merasa benar-benar siap mewariskan kekayaan mereka saat ini. Hal ini semakin menegaskan bahwa warisan yang bertahan lintas generasi tidak hanya bergantung pada apa yang diwariskan, tetapi juga pada kesiapan generasi berikutnya untuk mengelolanya.

Studi tersebut juga menunjukkan bahwa perencanaan warisan semakin berkembang di seluruh kawasan. Proporsi masyarakat yang telah memiliki rencana warisan yang terdokumentasi sepenuhnya dan dikomunikasikan kepada pihak terkait meningkat lebih dari dua kali lipat, dari 10% pada 2025 menjadi 22% pada 2026. Sementara itu, mereka yang sama sekali belum memiliki rencana turun dari 31% menjadi 15%.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

David Broom, Chief Client and Distribution Officer di Sun Life Asia, mengatakan: "Rencana warisan belum bisa dianggap lengkap hanya karena sudah dibuat secara tertulis. Rencana tersebut perlu memastikan seluruh keluarga memiliki pemahaman yang sama tentang tujuan kekayaan tersebut, prinsip yang menjadi pedoman dalam mengelolanya, serta bagaimana generasi berikutnya dapat melanjutkan tanggung jawab itu. Dengan begitu, rencana yang telah disusun tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi juga dapat diterapkan dan bertahan dalam jangka panjang."

Warisan bukan sekadar soal uang

Bagi sebagian besar keluarga, warisan bukan sekadar soal uang. Selain uang dan properti, keterampilan dan pendidikan (33%), nilai-nilai keluarga (32%), serta pelajaran hidup (31%) termasuk hal yang paling ingin diwariskan. Memberikan kesempatan melalui pendidikan dianggap sangat penting dan termasuk dalam tiga prioritas utama di kawasan ini (48%). Bahkan di antara mereka yang berencana mewariskan aset finansial, membiayai pendidikan (45%) menempati urutan setelah memenuhi kebutuhan pokok keluarga (52%) dan memberikan dukungan finansial kepada anggota keluarga semasa hidup (50%).

Hal yang ingin dicapai keluarga melalui kekayaan mereka juga menunjukkan gambaran yang sama. Enam dari 10 orang (61%) ingin kekayaan mereka membuka peluang jangka panjang bagi orang-orang yang mereka sayangi, sementara 52% ingin kekayaan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti tempat tinggal dan layanan kesehatan. Uang tetap penting, tetapi kini semakin dipandang sebagai sarana untuk memberikan rasa aman dan membuka peluang bagi generasi berikutnya, bukan sebagai warisan itu sendiri.

Perencanaan semakin matang, tetapi tingkat keyakinan masih tertinggal

Perencanaan semakin terstruktur, tetapi tingkat keyakinan belum meningkat seiring dengan perkembangannya. Jumlah orang yang memiliki rencana yang sepenuhnya terdokumentasi dan telah dikomunikasikan meningkat lebih dari dua kali lipat dalam setahun, dari 10% pada 2025 menjadi 22% pada 2026, sementara mereka yang sama sekali belum memiliki rencana turun dari 31% menjadi 15%. Namun, tingkat keyakinan belum meningkat dengan laju yang sama. Saat ini, hanya 20% yang merasa benar-benar siap, hampir tidak berubah dari 19% setahun lalu. Saran profesional turut berperan dalam meningkatkan kesiapan. Hampir separuh responden (46%) telah berkonsultasi dengan tenaga profesional mengenai perencanaan warisan, naik dari 37% pada 2025. Di antara mereka, 79% merasa siap secara finansial untuk mewariskan kekayaan mereka, dibandingkan dengan 44% dari mereka yang belum berkonsultasi dengan tenaga profesional, tetapi ingin melakukannya.

Kekhawatiran justru paling tinggi di kalangan mereka yang masih memiliki banyak waktu untuk melakukan perencanaan. Tiga perempat (76%) Gen Z dan Milenial khawatir kekayaan mereka tidak akan bertahan hingga generasi berikutnya, dibandingkan dengan 66% Gen X dan 59% Baby Boomer. Namun, generasi muda juga paling optimistis mengenai dampak kekayaan yang mereka wariskan. Sebanyak 65% Gen Z dan 67% Milenial yakin bahwa kekayaan yang mereka wariskan akan terus memberikan manfaat bagi generasi mendatang, dibandingkan dengan 51% Baby Boomer.

Setiap generasi cenderung menilai generasi lainnya memiliki literasi keuangan yang lebih baik. Lebih dari separuh (58%) Gen X dan Baby Boomer menilai anggota keluarga yang lebih muda lebih melek finansial daripada mereka, sementara 61% Gen Z dan Milenial justru berpandangan bahwa generasi sebelumnya lebih melek finansial.

Pandangan positif terhadap satu sama lain ini tetap diiringi kekhawatiran nyata mengenai kesiapan mereka. Kesiapan penerima manfaat dalam mengelola harta yang mereka warisi menjadi kekhawatiran terbesar keluarga, yang disebutkan oleh 52% dari mereka yang khawatir kekayaannya tidak akan bertahan, melampaui volatilitas pasar (49%) dan konflik terkait aset (44%). Lebih dari seperempat (27%) menyebut kurangnya literasi keuangan pada generasi berikutnya sebagai salah satu risiko terbesar terhadap keberlangsungan kekayaan keluarga, sementara 25% lainnya khawatir generasi berikutnya tidak memiliki keyakinan yang cukup untuk mengelola kekayaan yang akan mereka terima. Para penasihat semakin berperan dalam membantu keluarga memulai pembicaraan mengenai hal-hal tersebut. Empat dari 10 orang mengatakan bahwa komunikasi dengan generasi berikutnya telah dilakukan, setidaknya sebagian, melalui penasihat keuangan, meningkat dari 15% pada 2025.

David Broom menambahkan: "Mewariskan kekayaan mungkin merupakan keputusan yang cukup mudah, tetapi mempersiapkan seseorang untuk mengelolanya membutuhkan proses yang jauh lebih panjang. Keluarga yang melibatkan generasi berikutnya sejak dini dapat memanfaatkan pembicaraan tersebut untuk membangun kemampuan dalam mengambil keputusan finansial, memperjelas ekspektasi, dan mengurangi ketidakpastian sebelum tanggung jawab beralih kepada mereka. Penasihat keuangan tepercaya dapat membantu keluarga menjalani pembicaraan tersebut dengan lebih yakin dan mewujudkan niat baik menjadi rencana yang dipahami oleh seluruh anggota keluarga."

Bagi keluarga kaya, mengelola kompleksitas lebih penting daripada mengelola konflik

Bagi keluarga terkaya di Asia, situasinya berbeda. Jika masyarakat umum lebih mengkhawatirkan kesiapan keluarga dan risiko konflik terkait aset, individu dengan kekayaan bersih tinggi justru jauh lebih tidak khawatir akan kemungkinan terjadinya perselisihan dalam keluarga. Seperlima (20%) menilai perselisihan sebagai ancaman besar terhadap keberlangsungan kekayaan, dibandingkan dengan 34% dari seluruh masyarakat umum yang disurvei. Sebaliknya, mereka lebih mengkhawatirkan hal-hal mendasar dalam menjaga keberlangsungan kekayaan, yaitu mengambil keputusan investasi yang tepat, mengelola kompleksitas perpajakan dan hukum, serta memiliki kepercayaan terhadap lembaga yang mengelola kekayaan mereka.

Keputusan investasi yang kurang tepat dipandang sebagai risiko oleh 37% responden dengan kekayaan bersih tinggi, dibandingkan dengan 24% masyarakat umum, sementara 29% menyoroti kompleksitas perpajakan atau hukum, dibandingkan dengan 18% masyarakat umum. Di antara mereka yang khawatir kekayaannya tidak akan bertahan hingga generasi berikutnya, 40% menyebut kepercayaan terhadap penasihat atau lembaga yang mengelola kekayaan mereka sebagai salah satu kekhawatiran, dibandingkan dengan 25% pada kelompok responden secara keseluruhan.

Lebih dari delapan dari 10 (83%) individu dengan kekayaan bersih tinggi yang disurvei meyakini bahwa penasihat perlu berperan dalam perencanaan warisan, dan 63% menilai penasihat seharusnya mengambil peran utama. Hal ini menunjukkan bahwa penasihat memiliki peran yang jauh lebih sentral bagi kelompok ini dibandingkan bagi masyarakat umum. Bagi keluarga-keluarga ini, menjaga kekayaan agar tetap bertahan lintas generasi kini tidak hanya membutuhkan keharmonisan keluarga, tetapi juga tata kelola yang baik dan penasihat yang dapat dipercaya.

Sujoy Ghosh, CEO Sun Life Private Wealth, mengatakan: "Bagi keluarga dengan kekayaan bersih tinggi, menjaga kekayaan agar tetap bertahan lintas generasi bukan hanya soal menghindari konflik keluarga. Hal yang tak kalah penting adalah keyakinan bahwa setiap keputusan terkait kekayaan tersebut, mulai dari investasi hingga penataannya untuk generasi berikutnya, telah diambil dengan tepat. Karena itu, nasihat dari pihak yang tepercaya menjadi sangat penting. Keluarga semakin membutuhkan penasihat yang dapat menggabungkan berbagai keahlian yang tepat, membantu mereka menghadapi berbagai kompleksitas, dan mengambil keputusan yang bijak untuk kekayaan mereka di berbagai negara dan lintas generasi."

Di semua tingkat kekayaan, riset ini menunjukkan perubahan mendasar yang sama: keluarga semakin mempertimbangkan bukan hanya apa yang akan mereka wariskan, tetapi juga apakah generasi berikutnya siap menerimanya.

Laporan selengkapnya tersedia sini.

Tentang survei ini

Ini merupakan survei tahunan kedua Sun Life Asia mengenai perencanaan warisan, setelah survei tahun 2025 Passing the Torch: Building Lasting Legacies in Asia. Pengumpulan data dilakukan pada Agustus 2026 di enam pasar, yaitu Hong Kong, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Vietnam, dengan melibatkan 3.073 responden dari berbagai tingkat kekayaan dan generasi.

Tentang Sun Life
Sun Life adalah organisasi jasa keuangan internasional terkemuka yang menyediakan solusi manajemen aset, pengelolaan kekayaan, asuransi, dan kesehatan bagi Klien individu maupun institusi. Sun Life beroperasi di sejumlah pasar di seluruh dunia, termasuk Kanada, AS, Inggris Raya, Irlandia, Hong Kong, Filipina, Jepang, Indonesia, India, Tiongkok, Australia, Singapura, Vietnam, Malaysia, dan Bermuda. Per 30 Juni 2026, total aset kelolaan Sun Life mencapai $1,70 triliun. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.sunlife.com.

Saham Sun Life Financial Inc. diperdagangkan di bursa saham Toronto (TSX), New York (NYSE), dan Filipina (PSE) dengan simbol ticker SLF.

Catatan untuk editor: Semua angka dalam dolar Kanada

Berita Terkait

The Coffee Bean & Tea Leaf® dan Al-Ghunaim Rayakan Pembukaan Kafe Ke-130 di Kuwait
Milliken Memamerkan MAXCELL® di Data Centre World Asia 2026, Membantu Asia Tenggara Memenuhi Kebutuhan Infrastruktur AI yang Terus Meningkat
Rianlon Ekspansi ke Malaysia, Perkuat Pasar Global
Huawei Paparkan Enam Proyek Percontohan Ketenagalistrikan Global, Bangun Sistem Baru dengan Sinergi AI dan Energi
Reconova Debut di Ajang PTE Asia 2026, Dorong Ekspansi Smart Aviation Berbasis Embodied Intelligence
Hollyland WeConnect 2026 Soroti Hal yang Tak Tergantikan di Era AI
Shanghai Electric Hadirkan Tiga Solusi Transisi Energi di Enlit Asia 2026
Setelah 44 juta penayangan, film musik singkat “IS IT JUST A GAME?” mengungkap petunjuk baru tentang PAPmusic Game, video game yang akan hadir pada tahun 2026.

Berita Terkait

Minggu, 27 September 2026 - 04:37 WIB

Meneruskan kekayaan lebih mudah daripada mempersiapkan pewaris untuk mengelolanya, menurut studi Sun Life Asia

Jumat, 25 September 2026 - 12:25 WIB

The Coffee Bean & Tea Leaf® dan Al-Ghunaim Rayakan Pembukaan Kafe Ke-130 di Kuwait

Jumat, 25 September 2026 - 10:00 WIB

Milliken Memamerkan MAXCELL® di Data Centre World Asia 2026, Membantu Asia Tenggara Memenuhi Kebutuhan Infrastruktur AI yang Terus Meningkat

Jumat, 25 September 2026 - 02:32 WIB

Rianlon Ekspansi ke Malaysia, Perkuat Pasar Global

Kamis, 24 September 2026 - 23:27 WIB

Reconova Debut di Ajang PTE Asia 2026, Dorong Ekspansi Smart Aviation Berbasis Embodied Intelligence

Berita Terbaru

Ekonomi

PROPAMI Gelar RUAT 2026 Usai Seminar Nasional di Bandung

Minggu, 27 Sep 2026 - 00:58 WIB

Pers Rilis

Rianlon Ekspansi ke Malaysia, Perkuat Pasar Global

Jumat, 25 Sep 2026 - 02:32 WIB